William Cheung

Koyo William Cheung asal Hongkong dikenal dengan desainnya yang sangat stylish & modern.

Desainer dibalik brand KOYO, memulai bisnis fashionnya pada tahun 1995. Memiliki  pengetahuan teknis produksi yang tinggi yang dia dapatkan di Polytechnic University di Hongkong, Koyo William Cheung meluncurkan berbagai macam teknik mengolah bahan, seperti  tie dye diatas bahan denim yang dibuat sangat eksperimental,  teknik washing yang memunculkan kesan vintage atau gaya modern baroque gothic.

Koleksinya yang berbahan denim telah dikenal  sebagai premium denim brand di Asia, Australia, dan Eropa. Kunjungi www.koyojeans.com

 
Saksit Pisalasupongs & Phisit Jongnarangsin

Duo desainer asal Thailand, Saksit Pisalasupongs & Phisit Jongnarangsin adalah dua sahabat lama yang telah menghasilkan karya yang sudah diperagakan diberbagai fashion show di Paris, Sydney, Beijing, Singapore, and Kuala.Lumpur.

Dibawah brand TUBE keduanya memulai bisnis di tahun 1998 dengan latar pendidikan seni pertunjukan di Middlesex- Inggris dan Thailand . Keduanya memiliki minat yang besar dalam fashion  dan mewujudkan koleksi mereka yang dikenal dengan sentuhan elegant . Hasil rancangan mereka dapat dilihat di www.tube-gallery.com

 
Isaac Yuen

Mengusung gaya modern, elegant, romantic, dan classic, Isaac Yuen mengeluarkan koleksi rancangannya dibawah brand KALICO.

Mengawali karirnya   di tahun 1989 sebagai pemenang  runner-up pertama di  Hong Kong Fashion Designers’ Contest, kemudian memulai fashion show  di Hong Kong Young Designer Show tahun 1993. Koleksi rancangannya berfokus pada kenyamanan dengan cutting yang tepat pada bentuk tubuh wanita dengan penataan elemen gaya pada komposisi bahan yang dipadupadankan.

Isaac Yuen berlatar belakang pendidikan di  Hong Kong Polytechnic University dan pengalman sebagai brand builder dan market developer untuk beberapa produk fashion  di China dan Asia Timur. Kunjungi website nya di www.kalico.com.hk

 
Afif Syakur

Sebagai generasi ke-4 pengrajin batik asal Pekalongan, Afif memiliki APIP`S Kerajinan Batik, Yogyakarta. Seorang perancang dan seniman batik yang konsisten, Afif aktif sebagai Penasehat Asosiasi

Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Yogyakarta, salah satu ketua Paguyuban Pecinta Batik Indonesia Sekarjagad dan Pengurus Yayasan Batik Indonesia.  Selain di JFFF, Bali dan Jogja Fashion Week, batik karya Afif juga pernah ditampilkan di Singapura, Malaysia, Jepang, Italia, Spanyol, Ceko dan Rusia. 

 
Agnes Budhisurya

Pada awal 90-an, Agnes hadir dengan desain bordirnya yang khas. Keunikan ini berhasil melambungkan karya-karyanya ke berbagai penjuru dunia, mulai dari Asia, Eropa, Amerika sampai Timur Tengah. Namun kini ia memutuskan untuk beralih ke sesuatu yang berbeda. Agnes melukis di atas kain, dan bermain dengan kombinasi warna, gradasi dan bentuk. Karyanya kini dikenal karena memberi siluet indah pada tubuh si pemakai.

 
Ahmad Sofiyulloh

Karyanya dikenal melalui brand Sofie yang telah meraih tempat tersendiri di hati masyarakat. Kepiawaian Ali membuahkan Juara III Indonesian Fashion Competition 1995, Runner Up pada Bali Fashion Week 2005 dan Kategori Motif Terbaik Kreasi Busana Tenun Jawa Timur 2007.

Selain aktif di berbagai fashion show, ia juga  bekerja sama dengan Pemda Kalimantan Selatan untuk mengolah tenun sutra Pagatan dan Pemda Aceh untuk mengolah kain Krawang Gayo Lues.

 
Ali Charisma

Ali tak ragu menggabungkan warna dan tekstur yang berseberangan, dan menyulapnya dalam harmoni. Memulai karier rancang busananya di Bali,  karya Aku telah menjangkau Kuala Lumpur,  Hong Kong, Dubai dan Madrid dan mendapat perhatian dari pers internasional. Selain diekspor ke Eropa, Amerika dan Australia, saat ini, koleksi Ali bisa ditemui di department store terkemuka Bali dan Jakarta.

 
Anne Avantie

Namanya selalu mengingatkan kita akan keanggunan kebaya, warisan budaya Nusantara yang berharga. Di tangan Anne, kebaya disulap menjadi suatu busana yang sarat nilai tradisional, namun semakin cantik dengan sentuhan kontemporer.

Karya-karya Anne memang melambangkan kecantikan khas Indonesia yang tak lekang dimakan zaman. Kreativitas dan dedikasinya membuahkan sejumlah penghargaan, seperti IWAPI Kartini Award 2005 dari Ibu Negara RI.

 
Jeanny Ang

Mengawali karier dengan membuka sebuah konveksi pakaian jadi dan memproduksi seragam kantor, Jeanny perlahan memantapkan eksistensinya sebagai perancang busana pesta. Jenny juga sempat meengekspor gaun pengantin ke Amerika dan Jepang, serta aktif di berbagai bridal show.

Kini ia aktif di APPMI, menjadi peserta tetap JFFF sejak 2006 dan mengelola showroom gaun pesta Jenny Ang Couture di sebuah mal besar Jakarta.

 
Lenny Agustin

Alumni Bunka Fashion School dan La Salle College ini pernah meraih beberapa prestasi, seperti  finalisFemale Ethnic Design 1999, Semi Finalis Concours International De Jeunes Createurs De Mode 1999, pemenang pertama di International Bridal Competition 2003 majalah Perkawinan dan the most promising Indonesian Designer Award, A+ Magazine 2008.

Rancangannya bisa dilihat pada berbagai fashion show, seperti APPMI Fashion Tendance dan Bali Fashion Week.

 
Musa Widyatmodjo

Mendalami bidang fashion design di Drexel University, Philadelphia, filosofinya adalah “Fashion is not just to be admired, it must be wearable.” Inspirasinya bersumber dari warisan kebudayaan Indonesia, dengan karakter kesederhanaan potongan serta sentuhan kriya mode Nusantara.

Saat ini ia mengelola PT Musa Atelier dan aktif membangun dunia mode nasional melalui APPMI. Musa juga menjadi Dewan Penasehat dan Wakil Ketua Tetap Panitia Penyelenggara JFFF.

 
Nuniek Mawardi

Aktif sebagai anggota APPMI dan IPBM (Ikatan Perancang Busana Muslim), karya Nuniek kerap ditampilkan dalam ajang Fashion Tendance dan berbagai peragaan busana lainnya. Kreasi busana muslimnya bahkan telah menjangkau Dubai dan China.

Nuniek juga telah menelurkan sejumlah buku Seri Busana Muslim yang diterbitkan PT Gramedia. Berlabel Nuniek Rosa, koleksinya kaya detail smock, patchwork dan aplikasi lainnya yang memberi tekstur pada kain.

 
Oka Diputra

Oka belajar fashion secara otodidak, ditunjang latar belakang desain grafis yang ia miliki. Ciri khas desainnya adalah siluet yang sangat Asia.  Rancangannya minimalis, dan seringkali menggunakan bahan eksotis seperti sutra satin atau sutra organza tenun tangan. Saat ini, Oka memiliki tiga butik di Bali dan pelanggannya tersebar di mancanegara. Rancangan Oka bahkan muncul di Hong Kong Fashion Week, majalah Elle Spanyol dan Vogue Australia.

 
Poppy Dharsono

Menimba pendidikan mode di Ecole Superieur De La Mode Guerre Lavigue, Paris, Poppy saat ini mengelola beberapa usaha, diantaranya garment, kosmetik dan sekuritas.

Sebagai Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Kadin, Ketua Asosiasi Pengusaha Garment dan Aksesoris Indonesia (APGAI) dan Penasehat serta Pendiri Asosiasi Pengusaha Perancang Mode Indonesia (APPMI), Poppy juga aktif dalam misi promosi pariwisata DKI Jakarta di mancanegara. Tak heran, pengabdiannya membuahkan Penghargaan Adikarya Wisata dari Gubernur DKI Jakarta.

 
Rudy Chandra

Memasuki dunia mode sejak 1996 dengan label Rudy Chandra, desainer muda ini produktif menelurkan berbagai kreasi, sehingga karyanya baik dalam kategori haute couture maupun ready to wear telah memiliki konsumen tersendiri – terlebih dengan ciri khas rancangannya.

Rudy bergabung dengan APPMI pada tahun 2004, dan saat ini memiliki showroom di The Catwalk dan Pasaraya Grande.

 
Taruna K. Kusmayadi

Meraih latar belakang pendidikan rancang busana di New York, Taruna saat ini menjabat sebagai Ketua Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI). Ia juga memegang posisi sebagai Fashion Director di dua perusahaan serta menjadi pengajar di Institut Kesenian Jakarta dan Indonesia International Fashion Institute.

Taruna juga aktif sebagai juri di sejumlah kontes fashion design, diantaranya yang diselenggarakan oleh majalah wanita terkemuka.