Kompetisi Soto Indonesia

Setelah sukses menggelar Kompetisi Mie Warisan Nusantara, JFFF kembali mengangkat salah satu kuliner yang sangat dekat dengan masyarakat & ada di berbagai daerah di Indonesia yaitu soto dengan mengadakan Kompetisi Soto Indonesia. Pemilihan menu Soto sejalan dengan program dari BEKRAF untuk mempromosikan Soto "A Spoonful of Indonesian Warmth" ke dunia.

Kompetisi Soto Indonesia dimulai dengan proses kurasi soto-soto andalan di berbagai daerah seperti Yogyakarta, Solo, Medan, Makassar, Kudus, Semarang, Surabaya, Kudus, dan juga Jakarta mulai bulan November - Desember 2017. Dan akhirnya, terpilihlah 10 soto yang akan berkompetisi di ajang Food Festival JFFF 2018 pada bulan April mendatang.



10 SOTO INDONESIA TERPILIH


Soto Kesawan - Medan

Berbeda dengan soto pada umumnya yang menggunakan bahan baku daging sapi atau ayam, Soto khas Medan yang satu ini menggunakan udang sebagai bahan utama. Didirikan sejak tahun 1960an, Soto Kesawan menggunakan udang galah segar dengan ukuran cukup besar. Kuah soto yang terbuat dari kaldu udang serta diracik dengan perpaduan santan, bumbu ketumbar, dan daun jeruk membuat aroma dan rasa kuahnya sangat kuat. Udang yang sudah direbus tersebut lantas digoreng, sehingga rasa daging udang menjadi lebih gurih.

Soto H. St. Mangkuto - Padang

Soto H. St. Mangkuto awalnya lahir di kota Padang pada tahun 1942, namun akhirnya berpindah ke kota metropolitan pada tahun 1966 di Jl. Pintu Air, Pasar Baru. Uniknya, soto khas Padang ini selalu disajikan dalam mangkuk khusus yang bertujuan untuk menjaga soto tetap hangat. Dengan kombinasi isian daging, bihun, dan perkedel kentang membuat soto ini banyak digemari oleh para pecinta kuliner.

Dalam proses pembuatannya yang menggunakan bumbu resep rahasia, potongan daging sapi direbus terlebih dahulu sebelum digoreng renyah. Potongan daging goreng sengaja dibuat lebih besar agar aroma dagingnya lebih terasa dan teksturnya lebih lembut. Lezatnya kuah soto dilengkapi dengan kerupuk merah dalam nasi putih, menjadikan cita rasa soto Padang H. St. Mangkuto semakin nikmat.

Soto Betawi H. Mamat - Jakarta

Soto Betawi H. Mamat memulai usahanya dengan konsep tenda di daerah Harmoni, Jakarta Pusat. Soto yang telah hadir sekitar 58 tahun lalu ini sudah membuka beberapa cabang, baik di Jakarta maupun Tangerang. Soto Betawi H. Mamat cukup banyak digemari oleh pecinta kuliner Nusantara, terbukti dari selalu ramainya pelanggan yang datang setiap hari untuk menikmati soto Betawi. 

Keunikan soto H. Mamat terletak pada proses pembuatan air santan kelapanya, dan rempah-rempah yang dibuat menggunakan peralatan tradisional. Sajian menu dengan kuah terpisah, dipadu kelezatan oseng daging yang terdiri dari pilihan daging sapi, kaki, urat, kikil, atau daging ayam, menjadi salah satu menu andalan. Pilihan kuah juga terbagi dua, yaitu kuah bening dan kuah santan yang sangat menggugah selera.

Soto Jakarta Pak H. Yus

Siapa yang tidak mengenal kelezatan soto betawi, potongan daging sapi yang empuk dipadu dengan kesegaran tomat dan gurihnya kuah tentu menggugah selera pecinta kuliner. Namun berbeda dengan soto betawi kebanyakan yang terbuat dari santan, Soto Jakarta Pak Yus yang terkenal sejak tahun 1973 ini menggunakan susu sapi murni tidak berlemak yang berasal dari peternakan lokal sebagai bahan utama kuah soto. Pilihan daging segar yang diberikan pun beragam mulai dari daging sapi hingga jeroan. 

Uniknya Pak Haji Yus menghidangkan kelezatan alami soto dari bahan-bahan utama dan memberikan keleluasaan kepada para pelanggannya untuk menambah racikan bumbu sesuai dengan selera masing-masing. Kelezatan soto betawi ini sudah tak perlu diragukan lagi dilihat antusias pengunjung yang sangat ramai. Hal ini akhirnya membuat soto yang awalnya membuka gerai di kawasan Menteng ini membuka cabang ke beberapa tempat.

Soto Kadipiro - Yogyakarta

Warung Soto Kadipiro merupakan warung soto ayam legendaris yang sudah dikenal sejak zaman kolonial Belanda. Awalnya didirikan oleh Mbah Tahir Kartowijoyo dengan konsep sederhana dipikul angkring keliling kampung, hingga akhirnya membuka warung soto yang berada di Jl. Wates dan dijuluki Raja Soto. 

Resep yang diwariskan turun temurun sejak 95 tahun lalu ini selalu konsisten memberikan cita rasa soto ayam khas Yogyakarta yang menjadi favorit berbagai kalangan usia. Soto otentik yang dibuat dari kelezatan ayam kampung dengan bahan rempah alami yang segar membuat para pelanggan setianya selalu jatuh cinta di setiap suapannya.

Soto Trisakti - Solo

Soto daging sapi yang terkenal sejak tahun 1962 ini memulai usahanya dengan membuka warung tenda kaki lima. Kelezatan daging sapi empuknya berhasil menggugah banyak pecinta kuliner hingga akhirnya terkenal dengan nama Trisakti, yang merupakan nama bioskop yang berada tepat di sebelah warung saat ini yaitu di Jl. Kalilarangan No. 61.

Kelezatan daging sapi resep Mbah Amad Dikromo sukses membuat Soto Trisakti menjadi salah satu soto favorit pecinta kuliner Nusantara. Meskipun otentik, Soto Trisakti juga memberikan beberapa inovasi menu pendamping yang tak kalah mencuri perhatian, seperti sosis solo, sate telur puyuh, perkedel, dan lainnya yang menambah kelezatan.

Tauto Bumbu Pekalongan

Lokasi Pekalongan yang berada di pesisir Jawa membuat kota ini menjadi kota yang kaya budaya karena menjadi tempat perpaduan budaya antara India dan China. Tidak hanya mempengaruhi budaya lokal, tapi juga mempengaruhi cita rasa makanan lokal termasuk makanan khas Pekalongan yaitu tauto. Soto khas yang diracik menggunakan bumbu sambal goreng tauco dipadu dengan daging kerbau dan soun. Gurih yang terasa dari bumbu rempah, dengan santapan lontong atau nasi megono, membuat tauto menjadi salah satu makanan favorit jika berkunjung ke kota Pekalongan.

Soto Ngatijo - Madura

Soto kaldu khas Jawa Timur ini berdiri sejak 1964 dengan konsep dipikul. Awalnya tak ada yang menyangka keberhasilan soto pikulan ini. Namun rasa memang tidak pernah berbohong, sehingga membuat perjalanannya terus menarik perhatian para penikmat soto hingga kini Soto Ngatijo sudah tidak dipikul lagi, melainkan hadir di tengah-tengah kota metropolitan. Soto yang didirikan oleh Bapak H. Ngatijo tersebut menyediakan tiga pilihan rasa yaitu soto daging sapi, soto daging ayam, dan soto daging campur. Meskipun tidak menggunakan santan, namun soto ini tetap terasa gurih dan kaya akan rempah lokal. Selain itu, tekstur daging sapi maupun ayam yang dimasak terasa lembut sehingga menjadi daya tarik keunikan yang dimiliki oleh soto khas Madura.

Coto H. Daeng Tayang - Makassar

Berbeda dengan soto lainnya, soto khas Makassar yang biasa disebut coto ini dikenal dengan sambal tao-co. Coto H. Daeng Tayang merupakan salah satu coto favorit di kotanya. Perpaduan daging, lidah, dan jeroan sapi yang dimasak menggunakan bumbu rempah lokal memberikan aroma dan rasa yang khas. Coto yang didirikan sejak tahun 1998 di Jl. Sultan Hasanuddin ini berhasil memikat para penggemar coto hingga akhirnya membuka beberapa cabang di kota Makassar. 

Pallubasa Onta - Makassar

Warung soto milik H. Taufik Daeng Nappa yang didirikan sejak 1997 ini bukan menyediakan daging onta, melainkan daging sapi. Nama onta sendiri diambil dari nama jalan tempat warung berada yaitu Jl. Onta Lama. Meskipun masih berumur cukup muda, namun hidangan Pallubasa Onta sudah menjadi salah satu favorit pecinta kuliner.

Berbeda dengan warung soto lainnya di Makassar, Pallubasa Onta tidak menyediakan jeroan sapi. Para pengunjung disajikan daging sapi yang dimasak lembut dengan kuah kental yang berasal dari racikan bumbu rempah-rempah. Rasanya sangat nikmat, terlebih bila dihidangkan dengan parutan kelapa yang sudah disangrai. Tak sampai di situ, tambahan kuning telur ayam kampung yang biasa disebut ‘alas’ juga akan membuat rasanya semakin lezat.

Take a quick survey

Thanks for coming & join the excitement in JFFF 2018. We’d love to hear from you. Tell us how we can improve your experience by taking this quick survey!

Start Now